Arsip untuk Juli, 2008

30
Jul
08

Kriteria Foto Album Dan Perkembangannya

Para hobbies ataupun professional photographer saat ini tentunya banyak diberikan pilihan bagaimana mengemas fotonya pada album yang ditawarkan para produsen album.

Namun perlu diketahui juga, saat ini selain kita dapat menemukan album-album yang telah tersedia di toko-toko, mulai yang type “jadul” dengan lapisan lemnya, tinggal di selipkan fotonya dibawah layer transparannya berikut lemnya, walaupun sudah termasuk “purba” tapi tetap saja ada pemakai setianya terutama karena praktis penggunaannya serta ekonomis harganya, walaupun terkadang pada saat tertentu akan mengakibatkan fotonya berubah warnanya karena nampaknya terkontaminasi lem yang bereaksi dengan emulsi fotonya. Kemudian saat ini mulai dikenal istilah album digital.

Kemungkinan istilah ini timbul karena selain dihasilkan oleh kamera digital, juga karena hasilnya akhirnya telah melalui proses retouching dan pembuatan layout secara digital, sehingga dari hasil foto yang awalnya pas-pasan bahkan kurang baik, akhirnya tampil dengan lebih representatif, karena berikut layout dan make up pada objek fotonya melalui ketrampilan grafis yang didukung teknologi dan software yang memungkinkan untuk saat ini.

Sedangkan untuk jenis album yang mulai banyak diperkenalkan kepada para calon konsumen, khususnya di area pameran saat ini, yaitu type album magazine atau wedding book, yaitu bentuk album yang bentuk isinya secara visual tampil tanpa batasan antara sisi kiri dan kanannya alias menyambung.

Keuntungan type album ini yaitu menampilkan visual isi lebih luas karena tampil secara panoramic.

Secara teknis biasanya album magazine atau wedding book ditempelkan diatas lapisan kertas tebal semacam karton khusus setelah dilaminasi dingin diatas permukaannya lalu direkat, dan di keringkan dengan alat pengering / oven serta di press semalaman agar menghasilkan pengeringan dan bentuk yang merata dan stabil.

Untuk para pemula, biasanya mereka melakukan penempelan dengan menggunakan double tape karena pengerjaannya lebih mudah, cepat dan murah, tapi efek negatifnya seringkali bidang yang tidak terkena rekatan akan mengelembung pada saat tertentu dan lem dari tape tersebut seringkali akan meluber keluar dari bawah permukaan kertas foto, apalagi jika sering terkena panas hingga menjadikan lengket dipunggung album tersebut serta memberi kesan dekil.

Lalu untuk covernya, biasanya selain memanfaatkan kertas fancy atau kulit, seringkali memakai foto sebagai covernya.

Secara teknis, cover foto dibuat dengan cara foto direkatkan dengan lem khusus pada board lalu dikeringkan dengan menggunakan vakum pemanas.

Tapi sebelumnya foto sudah dilaminasi dan dipanaskan agar merekat kuat, istilahnya “hot laminasi”, karena proses ini akan mengantisipasi gelembung yang akan timbul akibat buka tutup cover yang diakibatkan copotnya lem dari permukaan kertas foto dan tentunya akan mengurangi nilai performa dari kemasan album tersebut.

Setelah melalui proses ini, barulah proses assembling atau penggabungan bagian isi dan cover serta diakhiri dengan penempelan dan di press seharian agar menghasilkan daya rekat dan bentuk yang prima.

Adapun keuntungan menggunakan cover foto yaitu album akan menjadi benar-benar menjadi album yang berbeda, karena akan menampilkan visual yang spesifik dari pembuatnya, dan memberikan sebuah karakter yang unik.

Dipersembahkan oleh: Kojo Aftershot Gallery

30
Jul
08

Arti Kemasan Bagi Sebuah Foto

Apabila Fotografi bisa diilustrasikan seperti kita beli snack digrosir tanpa merek dan dijual massal, tentunya akan berbeda dengan barang yang sudah berlabel dan diberi kemasan menarik, sehingga memberi impresi tersendiri serta mempunyai nilai jual lebih dibanding penampilan seadanya, apalagi didukung dengan display dan visual komunikasi yang pas.

Apalagi dalam dunia fotografi, apabila pasar yang dituju merupakan komunitas yang telah memiliki wawasan yang luas, intelek, dan melek desain, tentunya mereka akan sangat menuntut. Namun, mereka akan menghargai kita sebagai rekan pilihan mereka bila karya kita telah melewati finishing touch yang sesuai dengan standar mereka.

Oleh karena itu, kemasan yang kita buat kita usahakan sesuai dengan kebutuhan, sebagai contoh apabila selera mereka bernuansa klasik, tentunya kita beri nuansa cenderung agak konservatif, tapi bila seleranya “nuansa dangdut” tentunya kita beri nuansa yang meriah, dengan warna-warna cerah, meriah, dan sebagainya.

Demikian pula, kemasan sangat berpengaruh untuk pasar yang berdasarkan usia, seperti foto anak, remaja hingga dewasa.

Unsur warna dan elemen estitis, pemilihan warna, jenis huruf , sudut-sudut elemen grafis serta kesatuannya sangat perlu diperhatikan, agar interpretasi visual ini sesuai dengan harapan sang konsumen.

Dipersembahkan oleh: Kojo Aftershot Gallery

30
Jul
08

Menghargai Waktu, Keterampilan, Serta Pentingnya Bersinergi

Dalam dunia fotografi komersial, terkadang para photographer “terjebak” dalam mewujudkan hasil akhir pada karya dengan orientasi “yang penting lebih murah”.

Untuk beberapa photographer, kadang kala masih berusaha untuk melakukan sendiri berbagai kegiatan seperti pemotretan (sudah pasti), retouch, mendesain layout di komputer, supervisi cetakan, hingga proses pengalbuman.

Seringkali pada kenyataannya hal ini malah merugikan diri sendiri, karena pada akhirnya waktu dan karyanya yang diproses sendiri dan semampunya akhirnya waktu dan kreatifitasnya menjadi tidak terhitung dan tidak dialokasikan dalam biaya produksi secara keseluruhan.

Bagi yang masih berada di tingkat amatir/hobi serta mempunyai banyak waktu tentu hal ini tidak masalah. Tetapi bagi yang sudah mengkomersilkan jasanya, maka istilah “waktu adalah uang” seringkali lupa diperhitungkan.

Faktor lainnya, jika tidak didukung dengan kemampuan yang memadai dalam hal kreatif, desain, tren, pengetahuan soal warna, software, hardware, serta pengetahuan kalibrasi warna serta karakter mesin cetak atau outputnya, maka hasil akhirnya tentu tidak akan maksimal atau seadanya dan akhirnya akan kalah bersaing dengan pihak lainnya yang memiliki wawasan sebaliknya.

Biasanya dampak yang paling terasa adalah pekerjaan lain banyak yang tertunda, atau hasil yang didapat terkesan terburu-buru sehingga tidak maksimal dan berpotensi untuk mengecewakan pelanggan.

Dalam dunia bisnis dewasa ini sudah lazim kita melihat sinergi antara dua usaha atau lebih agar dapat mengeksplor kemampuan atau potensi masing-masing dan akhirnya menghasilkan produk yang paling impresif.

Dengan adanya jasa desain serta pengalbuman seperti Kojo Aftershot maka ide dan inspirasi para photographer akan lebih maksimal, karena photographer akan lebih terfokus pada pekerjaan utamanya bagaimana mengekspresikan komunikasi visualnya dengan mengeksplor karakter cahaya dan kameranya sesuai dengan karakter si photographer juga trend yang diharapkan.

Sisanya para photographer, baik yang amatir/hobi maupun komersil hanya perlu menyampaikan berbagai keinginannya pada saat pemesanan awal untuk menentukan gaya atau karakter layout juga finishingnya lewat contoh yang ada (berupa softcopy atau hardcopy) atau pengalaman yang dianggap sesuai dengan harapannya, sehingga hasilnya pun relatif tentu akan sesuai dengan keinginan para photographer.

Dipersembahkan oleh: Kojo Aftershot Gallery