Arsip untuk Oktober, 2008

23
Okt
08

Review Kodak M1033

Review oleh: Rifan Stifosi (TITAN Foto, BEC Bandung)

Sudah agak lama saya tidak menulis cerita tentang penggunaan suatu kamera. Terima kasih, seorang teman lama menyodorkan satu kamera untuk dicoba. Kamera poket Kodak M1033.

Pertama kali mengeluarkan kamera dari dalam kardusnya, saya cukup terkesima dengan tampilan kamera itu yang mungil, elegan, tapi memiliki layar LCD yang besar. Saya merasa ada satu kelas tertentu bagi kamera ini yang cukup mengangkat gengsi pemakainya, dengan badan kamera terbuat dari bahan metal yang mantap.

Saya tidak langsung menyalakan kamera itu, tapi mengisi ulang baterai kamera terlebih dahulu. Menarik juga, dalam kardus itu tersedia charger dengan colokan listrik berbentuk dua bulat ataupun tiga bulat. Maklum, kamera kodak M1033 ini ‘kan dipasarkan di seluruh dunia, sedangkan colokan listrik di masing masing negara bentuknya berbeda beda. Ini hal kecil yang biasanya diabaikan produsen kamera, tapi cukup merepotkan kita yang sering dolan ke negara tetangga.

Syukurlah masalah ini sudah dipertimbangkan dengan baik oleh Kodak M1033. Tapi bukan itu saja yang membuat saya senang. Ternyata kamera ini bisa juga di charge menggunakan terminal USB. Jadi sekiranya kita kekurangan terminal listrik di rumah, bisa juga mengisi baterai melalui komputer maupun notebook kita, melalui colokan USB.

Setelah baterai penuh, barulah saya coba eksplorasi kamera Kodak M1033 tersebut.

Ketika kamera dinyalakan, kamera langsung membawa kita pada program “smart capture”, dimana kamera bisa menerka, obyek apa yang akan kita foto, dan kamera mengambil keputusan, program apa yang harus diterapkan agar menghasilkan foto maksimal.

Sangat mengagumkan. Terus terang, baru kali ini saya menemukan program seperti ini, dan diterapkan pada kodak m1033 ini.

Dalam prakteknya, saya coba memotret wajah istri saya, dan ternyata kamera “mengetahui” bahwa saya memotret wajah seseorang, sehingga kamera pun menerapkan “program portrait” pada setting nya.Kemudian tanpa mengubah setting yang ada, saya arahkan kamera pada pemandangan alam di sekitar saya. Dan “smart capture” itu mengetahui apa yang saya mau, dan “landscape mode” langsung dipilih oleh kamera untuk saya. Nyaman…Demikian juga ketika saya arahkan kamera pada perhiasan yang dikenakan di jari istri saya, kamera langsung memilih “macro mode”, yang artinya kita tidak perlu banyak mengingat setting agar dihasilkan foto yang bagus. Smart Capture ini sangat cocok digunakan oleh orang yang benar benar tidak mau pusing sedikitpun akan setting kamera. Yang penting bisa dapat hasil foto bagus. Titik. Habis perkara.

Akhirnya saya coba arahkan kamera pada koran yang saya baca. Hebat! Kamera memilih “text mode”, yang artinya kita siap untuk mereproduksi koran yang kita baca. Oh… andaikan foto text tersebut akhirnya bisa di robah menjadi text beneran, dan kemudian bisa kita sunting melalui word processor… alangkah sempurnanya…

Selain Smart Capture, ada pula program biasa, yang pada umumnya terdapat pula pada kamera lain, sehingga tidak akan saya bahas terlalu jauh di tulisan saya kali ini.

Tapi satu hal yang menarik, ketika kemarin bersama teman teman hunting foto rembulan, manakala tradisi makan kue bulan sesuai penanggalan china, dan bulan purnama tampil dengan eksotis….Teman teman semua memotret menggunakan kamera SLR yang serius, hanya saya yang menenteng kamera poket Kodak M1033. Akankah menghasilkan foto yang bagus? Anda yang akan menilainya!

Dengan total zoom 12x, cukuplah kiranya saya mendapat foto bulan dengan ukuran yang cukup besar. Sayang, kamera ini tidak menyediakan sistem pencahayaan manual, sehingga saya tidak leluasa memilih kecepatan dan diafragma.

Idealnya, untuk memotret bulan, dengan iso 200, kita gunakan kecepatan 1/250detik, dan diafragma 8.
Tapi saya tidak bisa memilih ini secara manual. Maka saya coba “mengakali” atau “menipu” program kamera ini agar bekerja sesuai kehendak saya.

Ternyata setelah otak atik sekian lama, harapan yang saya idamkan itu tidak bisa tercapai, karena kamera cenderung membuat foto yang terang, dan bagus “di mata awam” secara umum. Padahal yang saya mau, foto bulan itu bukan hanya sekedar terang, tapi juga bercak bercak yang ada di bulan juga ikut terlihat. Ini tantangannya. Akhirnya saya tipu kamera, seolah olah sedang memotret model, sehingga didapat diafragma dan kecepatan yang saya inginkan. Tapi kamera inginnya menyalakan lampu kilat yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Tapi tidak apa apa. Kemampuan lampu kilat toh hanya menerangi hingga jarak 5meter, tidak ada artinya dengan lokasi bulan yang sangat jauh. Yang penting, diafragma dan kecepatan yang saya mau bisa tercapai.Alhasil dapatlah foto bulan yang cantik…

Agar tampil lebih cantik, saya ambil satu foto lagi menggunakan program “night scenery”, kemudian foto bulan tadi saya gabungkan pada foto kedua.

Bagaimana komentar anda?

21
Okt
08

Fungsional & Ekonomis

Flexible Box

Box model baru yang fungsional dan profesional ini dapat menyimpan album yang disusun secara bersamaan walaupun berbeda ukuran satu dengan lainnya bahkan berbeda fungsi sekalipun sehingga menjadikan box ini benar-benar “box yang flexible”.

Dengan kemungkinan komposisi:

  • Dua album berukuran yang sama
  • Dua album yang berbeda ukuran
  • Dua album berukuran yang sama ditambah satu ukuran berbeda
  • Gabungan album dengan fungsi penyimpan benda yg bersifat memorable

Dengan pilihan material kertas fancy yang banyak sekali, serta sistem pengunci menggunakan magnet yang tersembunyi menjadikan box jenis baru ini lebih modern bahkan menjadikan FLEXIBLE BOX ini benar-benar box yang flexible dari bentuk harga dan penampilan, disesuaikan dengan fungsi, pasar dan kedalaman saku konsumen.

10
Okt
08

Studio Dengan Lampu Rumah

Artikel oleh: Riadi Rahardja (INOVA Photography School - Bandung)

Biasanya bila kita ingat kata “studio” maka kita akan ingat lampu kilat berukuran besar dengan bentuk aksesori yang bermacam-macam untuk membentuk cahaya. Kini dengan memanfaatkan fitur tertentu pada kamera digital saku serta bantuan perangkat lunak pengolah foto kita dapat membuat studio sederhana.

Studio ini dapat menghasilkan foto yang cukup baik, warna yang tepat serta murah dan mudah menggunakannya.

Kelebihan lampu kilat studio
Bagi orang yang sudah memahami, lampu kilat studio memberikan kemungkinan kreatif yang sangat banyak.

Diantaranya adalah, warna yang dihasilkan standar, hampir tidak perlu usaha tambahan untuk mendapat warna yang tepat, kemudian dapat menggunakan kecepatan rana yang cukup tinggi sehingga meminimakan kemungkinan goyang.

Ketidaksesuaian lampu kilat studio dengan kamera digital saku
Untuk menyalakan lampu kilat dibutuhkan pemicu/trigger yang dihubungkan pada kamera. Sebagian besar kamera digital saku tidak memiliki kemampuan ini. Pemicu dengan menggunakan lampu kilat pada kamera seringkali tidak sinkron dengan lampu kilat studio.

Dibutuhkan setting manual pada kamera agar intensitas cahaya lampu kilat dapat disesuaikan dengan kebutuhan porsi cahaya pada kamera.

Banyak kamera digital saku hanya memiliki fasilitas otomatis, program dan “scene”. Bila ada, maka diafragma terkecil biasanya hanya “8” atau “11” angka ini adalah kemungkinan yang sangat terbatas bagi pemotretan studio biasa.

Lampu Rumah sebagai pilihan membuat studio sederhana
Lampu Rumah, dalam hal ini menggunakan lampu neon / fluorescent dapat menjadi pilihan karena mudah didapat dan dengan biaya yang relatif murah. Lampu rumah yang menyala terus menerus (continuous) tidak memerlukan pemicu agar menyala.

Efek dari lampu yang menyala terus menerus (continuous) dapat langsung terlihat (What You See Is What You Get / WYSYWYG) berbeda dengan lampu kilat, efek intensitasnya baru terlihat setelah lampu kilat menyala.

Kelemahannya adalah :

  • Intensitas cahaya yang kurang sehingga memerlukan kecepatan rana yang rendah yang dapat menghasilkan efek goyang.
  • Warna tidak standar, cenderung hijau, biru atau kuning.
  • Sulit menggunakan aksesori untuk membentuk cahaya.

Solusi

  • Intensitas cahaya yang kurang diatasi dengan memasang alat bantu sehingga dapat menggunakan beberapa lampu secara berdampingan.
  • Warna yang tidak standar dapat diatasi dengan :
  1. Menggunakan White Balance (WB) terdekat kemudian menggeser variabelnya kearah “+” atau “-“.
  2. Menggunakan Preset White Balance, kamera yang memiliki fasilitas ini biasanya memiliki cara tersendiri untuk melakukan preset.
  3. Menggunakan software pengolah foto, seperti Adobe Photoshop, GIMP, atau Jasc PaintShop Pro.
  • Ketiadaan sistem untuk memasang aksesori pembentuk cahaya dapat diatasi dengan menggunakan holder untuk lampu kilat AC Slave. Holder ini memungkinkan untuk memasang payung sebagai aksesori pembentuk cahaya.